Aku terkunci didalam kamar. Aku mengunci di dalam kamar. Aku tidak tau mana kalimat yang tepat buatku saat ini. Aku memutuskan resign dari sebuah pekerjaan yang tidak punya “hati”, pekerjaan yang lebih melihat segala sesuatu dari mata dan harta. Pekerjaan dengan dalih income yang tak terhingga, pekerjaan di gedung bertingkat warna putih dengan perempuan ber rok mini dan laki – laki berdasi dan sekarang i dont care dengan pekerjaan itu, pekerjaan yang tidak menghargai loyalitas sesorang, pekerjaan yang gelap akan sistem, pekerjaan yang hanya memberikan 500perak untuk diperas otaknya sampai terkencing – kencing.
Tadi aku menulis status di facebook ku dengan kalimat “saatnya tabah dan tawakal, jgn meminta berlebihan, ada saatnya tiba bukan?” kalimat ini kutulis dengan penuh kesadaran. Dan sepertinya aku sudah mulai dewasa, hmm...sepertinya.. sebuah kalimat itu muncul setelah beberapa hari yang lalu aku membaca sebuah buku yg cukup menyejukan imanku. Buku tersebut menceritan Memoar Spiritual Seorang Muslim Australia karya Ammatullah Armstrong, sebuah deretan kalimat yang menghentak dan membuatku tertegun di saat aku benar merasa semua ini tidak adil.
“Ketauilah kawan, kesedihan manusia berpangkal dari tiga hal :
Menginginkan sesuatu sebelum waktunya; menginginkan lebih dari kadar yang telah ditakdirkan baginya; dan menginginkan sesuatu yang dimiliki orang lain”
Ya....dan itu benar adanya, detik itulah aku mulai berbenah diri, aku memang harus sabar...harus lebih sabar....menunggu sebuah kepastian. Saat ini sama seperti dua bulan yang lalu, aku masih mencari kepastian dalam pekerjaan, aku masih dengan hentakan langkah memcoba dan mencoba. Mungkin banyak kasus sepertiku, mungkin banyak cerita sepertiku..., mungkin... aku, kamu kita..... Semua tidak ada yang pasti kawan, perbanyaklah keyakinan dengan kadar kadar doa yang lebih...dan lebih.. (march2010)
No comments:
Post a Comment